Skip links

Waspada Bahaya Memaksakan Lari, Pakar PYFA Soroti Risiko Fatal Nyeri Sendi Lutut pada Individu Dengan Obesitas

4 min read
POIN UTAMA:

JAKARTA, 22 Oktober 2026 – PT Pyridam Farma Tbk (IDX: PYFA) mengimbau masyarakat, khususnya individu dengan kondisi kelebihan berat badan (overweight) hingga obesitas klinis, untuk lebih waspada terhadap euforia tren olahraga lari massal. Lari seringkali dijadikan opsi utama sekaligus jalan pintas untuk menurunkan berat badan. Namun, memaksakan diri beralih secara instan menuju olahraga berintensitas tinggi justru menyimpan bahaya laten yang luar biasa bagi pergerakan tubuh. Sistem muskuloskeletal (tulang dan otot) secara mekanis dipaksa untuk menyerap beban kejut yang jauh melampaui batas kewajaran setiap kali telapak kaki membentur aspal. Jika terus dipaksakan, kondisi destruktif ini tidak sekadar menimbulkan nyeri otot lokal, tetapi berpotensi memicu robekan rawan sendi permanen yang mempercepat risiko datangnya penyakit osteoartritis di usia muda.

Antusiasme masyarakat ini tercermin dari rangkuman data IndonesiaMarathon.com dimana frekuensi ajang lari nasional melonjak drastis dengan jumlah terdata mendekati 1.000 event untuk periode 2025–2026. Tingginya antusiasme masyarakat terhadap tren lari massal ini membuat banyak pelari rekreasional mengabaikan kesiapan kondisi fisik dan langsung mengambil jarak tempuh tinggi, yang justru meningkatkan risiko cedera pada kerangka tubuh.

Langkah pertama yang paling bijaksana dan aman bagi penderita obesitas bukanlah memaksakan diri mengikuti tren lari ekstrem, melainkan berfokus pada upaya membangun fondasi kekuatan otot dan tulang guna melindungi struktur persendian. Penambahan beban statis dan dinamis pada anatomi lutut yang tidak diimbangi oleh sabuk massa otot pelindung yang kuat di sekitarnya adalah jaminan menuju disfungsi kronis. Pada akhirnya, klimaks dari kondisi ini justru akan memaksa individu tersebut untuk menghentikan seluruh aktivitas kebugarannya.

Medical Expert PYFA dr. Carlinda Nekawaty menyebut bahwa kurangnya kesiapan nutrisi pada tulang dan sendi seringkali menjadi salah satu faktor utama tingginya angka cedera pada pelari rekreasional. Oleh sebab itu perlindungan struktural tubuh dari dalam menjadi sebuah langkah preventif yang esensial sebelum meningkatkan intensitas latihan agar fungsi gerak tetap prima. 

“Pada individu dengan hasil indeks massa tubuh obesitas, struktur anatomi lutut mereka seringkali tidak sanggup menahan beban berat tubuhnya sendiri saat melakukan olahraga intensitas tinggi seperti berlari. Oleh karena itu, saya sangat tidak menyarankan mereka untuk langsung menjadikan lari sebagai olahraga utama. Orang dengan overweight dan/atau obesitas memiliki prevalensi risiko nyeri sendi lutut yang melonjak drastis jika memaksakan lari secara rutin setiap pekan. Sangat direkomendasikan untuk berfokus terlebih dahulu pada penurunan berat badan melalui olahraga low-impact yang tidak membebani lutut, seperti latihan angkat beban atau jalan santai guna membakar timbunan lemak. Nantinya, otot-otot baru inilah yang akan membantu menopang fondasi tubuh dan menyelamatkan sendi lutut dari kerusakan dini,” tegas dr. Carlinda Nekawaty, Medical Expert PYFA.

Mengenali dan mematuhi batasan struktural tubuh sendiri adalah sebuah kebijaksanaan yang tidak boleh ditepikan semata-mata demi mengejar eksistensi sosial. Keputusan melakukan olahraga berbenturan tinggi (high-impact) pada kerangka tubuh yang secara medis belum siap menerima beban repetitif diyakini akan bermuara pada komplikasi kerusakan sendi yang kompleks. Transisi aktivitas fisik dari gaya hidup minim gerak harus direncanakan secara terstruktur, rasional, dan selaras dengan toleransi fisik masing-masing individu.Peringatan ini menjadi semakin esensial mengingat tren peningkatan berat badan masyarakat yang terus melonjak. Menurut data kesehatan terbaru dari Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka nasional prevalensi obesitas pada kelompok penduduk usia dewasa (18 tahun ke atas) telah mengalami eskalasi yang signifikan hingga mencapai 23,4%. Proporsi yang terus membesar ini menempatkan jutaan penduduk Indonesia pada garis terdepan terhadap ancaman disfungsi gerak degeneratif, terutama jika rutinitas fisik yang diadopsi secara biomekanis tidak sesuai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) mereka.

Ke depannya, PYFA akan terus mendampingi langkah masyarakat dalam mewujudkan gaya hidup aktif melalui kampanye literasi olahraga yang aman dan disesuaikan dengan kondisi fisik individu. Melalui sinergi bersama ekosistem kesehatan, kami berharap insiden cedera traumatik dapat ditekan, karena pencapaian berat badan ideal tidak semestinya mengorbankan mobilitas di masa tua. Oleh karena itu, sayangi dan hargai kinerja sendi lutut Anda dengan mengawali transformasi fisik melalui metode low-impact serta membangun kesiapan massa otot secara bertahap. Sebagai bentuk dukungan holistik dalam perjalanan sehat tersebut, rangkaian produk PYFA hadir melalui Caltron, Osteor Plus, serta Syalox 300 P untuk membantu memelihara kesehatan tulang dan persendian dari dalam, sehingga Anda dapat tetap bergerak menuju berat badan yang sehat.

Tentang PYFA

PT Pyridam Farma Tbk, yang dikenal dengan brand PYFA, adalah perusahaan publik di sektor farmasi dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Kode Saham: PYFA). PYFA memiliki unit bisnis yang terdiri dari obat resep dalam berbagai bentuk seperti tablet, kapsul, krim, dan injeksi. PYFA memiliki anak perusahaan ternama, antara lain PT Holi Pharma, PT Ethica Industri Farmasi, dan Probiotec Multipack.

Relasi Hubungan Media:

Leilanie Nadia Kusuma
Head of Corporate Communications
Website : www.pyfa.co.id
Email : corcomm@pyfa.co.id

Berita Terbaru

Berita Terkait